Sekilas Biografi Syekh Yusuf al Qaradhawi

Repost - Sekilas Biografi Syekh Yusuf al Qaradhawi

Ditulis: Ustaz DR. Nurkhalis Mukhtar, Lc, MA

Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dilahirkan dari sebuah keluarga sederhana dengan nama lengkap Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf, yang kemudian populer dengan sebutan Yusuf Al-Qaradhawi, di sebuah Desa Shaft al-Turaab, tepatnya pada 9 September 1926 di bagian Barat Mesir.

Ayahnya, Abdullah, adalah anak dari seorang pedagang, Haji Ali Al-Qaradhawi. Mengutip cerita pamannya, Al-Qaradhawi menuturkan bahwa nenek moyang dari pihak ayahnya ini dahulu berasal dari sebuah daerah yang bernama al-Qaradhah dan namanya dihubungkan dengan nama daerah tersebut. Sehingga ia dikenal dengan panggilan Al-Qaradhawi (huruf ra dibaca dengan baris di atas) dan bukan al-Qardhawi (dengan dimatikan huruf ra), seperti yang biasa diucapkan oleh orang-orang Syam.

Ayahnya meninggal ketika ia berusia dua tahun, ia pun diasuh oleh pamannya dengan perhatian yang baik, dan seluruh anak pamannya adalah saudara yang baik untuknya, ia memperoleh cinta dan kasih sayang yang penuh dari mereka, dan menjadi pusat perhatian mereka. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga al-Hajar, sebuah keluarga pedagang dan sangat terkenal dengan kecerdasan. Ibu dan bibinya adalah orang yang cerdas. Bahkan saudara sepupu ibunya, Fatimah al-Hajar, dapat menghitung perkalian dan pembagian dengan angka-angka yang rumit dalam waktu yang sangat singkat.

Perjalanan Intelektual Al-Qaradhawi, ia memulai pendidikan di sebuah kuttab di desanya ketika usianya menginjak 5 tahun untuk menghafal Al Qur'an. Ketika usianya 7 tahun, ia masuk sekolah dasar untuk mempelajari ilmu-ilmu umum seperti: Matematika, Sejarah, Ilmu kesehatan dan lainnya. Ia seakan berada antara kuttab dan sekolah dasar. Di kuttab ia belajar pada pagi hari sedangkan sekolah pada sore hari. 


Inilah cikal bakal pembentukan intelektualnya yaitu perpaduan ilmu klasik dan modern, seakan-akan Allah SWT telah mempersiapkannya untuk menjadi seorang yang menduduki posisi penting pada masa modern dewasa ini. Ia telah menyelesaikan hafalan Al Qur'an sebelum usianya genap 10 tahun sehingga penduduk desanya sangat menyayanginya dan ia sering diminta untuk mengimami shalat mereka.

Terkadang pula ia ditanyai mengenai persoalan-persoalan fiqih, sehingga hal ini memotifasinya untuk senantiasa belajar dan meninggalkan perbuatan yang sia-sia.

Semenjak kecil ia gemar membaca, walaupun di desanya saat itu tidak ada perpustakaan khusus. Saat itu sangat langka buku-buku sastra. buku yang paling mudah didapati adalah buku-buku tasawuf, sehingga dominasi awal kehidupannya dipengaruhi oleh dimensi tasawuf. 

Kemudian ia melanjutkan ke Ma’had Thantha selama 4 tahun, dan melanjutkan pendidikan menengah atasnya selama 5 tahun masih di Ma’had yang sama. Di antara hal yang ia gemari ketika itu adalah membaca buku-buku sastra, seperti karya al-Manfaluthi, Mustafa Siddiq Rafi’i dan terkadang karya Abbas al-‘Aqqad yang terkenal itu juga dibacanya. Pada fase ini ia mulai berkenalan dengan pemikiran Ikhwan Muslimin yang digagas oleh Syekh Hasan al-Banna lewat majalah Ikhwan al-Muslimin. Di antara tulisan yang ia baca dari majalah itu adalah tulisan-tulisan Muhammad Al-Ghazali yang kelak begitu mempengaruhi jiwanya.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Universitas al-Azhar pada fakultas ushuluddin, dan berhasil memperoleh gelar license pada tahun 1953. Ia merupakan mahasiswa terbaik pada angkatannya. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya pada jurusan bahasa Arab, dan ia pun berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan menjadi mahasiswa terbaik dari 500 mahasiswa lainnya di jurusan tersebut. Pada tahun 1957 Al-Qaradhawi melanjutkan kuliahnya di Ma’had Dual ‘Arabiah dan berhasil memperoleh gelar diploma dalam bidang bahasa dan sastra Arab. 

Kemudian ia mengambil gelar magister di al-Azhar pada jurusan ulum Alquran dan Sunnah pada tahun 1960. Setelah menyelesaikan kuliah di program magisternya, ia menyiapkan proposal disertasi mengenai fiqih zakat yang ia targetkan selesai dalam dua tahun, namun karena ketentuan dan taqdir Allah, Al-Qaradhawi baru berhasil menyelesaikan program doktoralnya setelah 13 tahun dari masa yang ia targetkan dengan predikat summa cumlaude pada tahun 1973. Hal ini disebabkan karena faktor pergerakan dan politik yang ia lakukan.

Karir Al-Qaradhawi, Kementrian Agama Mesir pada tahun 1956 memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi khatib, pengajar di masjid-masjid yang ada, kemudian ia diangkat menjadi penasehat para imam masjid. Pada tahun 1959 ia dipercaya untuk mengawasi percetakan dan perpustakaan dalam bidang dakwah. Ia menjadi pengarah, sekaligus menjawab setiap persoalan-persoalan rumit dalam Islam yang dikirimkan ke majalah.

Pada tahun 1961 awal mula Al-Qaradhawi meluaskan dakwahnya, ditandai dengan permintaan dari negara Qatar untuk menjadi Direktur pada Ma’had Agama Tingkat Tinggi. Ma’had ini merupakan cikal bakal berdirinya sebuah universitas pertama di negara Qatar pada tahun 1973. Al-Qaradhawi memiliki peran yang besar demi suksesnya pendidikan di universitas tersebut, dan dia ditunjuk sebagai dekannya.

Pada tahun 1977 ia membentuk Kuliah Syariah dan Dirasah Islamiyah yang tunduk di bawah Universitas Qatar. Ditambah pula jabatannya sebagai Direktur pusat pembahasan sunnah dan sirah di kuliah Qatar, tentunya di sela-sela kesibukannya menjadi dekan di kuliah tersebut. Al-Qaradhawi juga diamanahkan sebagai salah seorang anggota senior dalam bilang fatwa, pengawas syariah Bank Dunia Islam, anggota majlis amanah dakwah Islam di Afrika, salah seorang pakar di Majma’ Fiqh Islami Organisasi Tinggi Keislaman, anggota pendiri lembaga kemanusiaan Islam internasional, anggota senior di lembaga Oxsford untuk pendidikan Islam.


Para tokoh yang mempengaruhi Al-Qaradhawi

Setiap tokoh umumnya dipengaruhi oleh figur-figur besar lainnya baik pada era hidupnya atau mereka yang hidup sebelum tokoh tersebut. Demikian pula Al-Qaradhawi, ia tumbuh mengalami proses bertahap hingga menjadi tokoh dunia. Ia memiliki banyak guru yang mempengaruhi corak pemikirannya, antara lain: 

Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Qaradhawi salah satu ulama yang mengagumi kejeniusan Al-Ghazali, khususnya penguasaan dan keahlian Al-Ghazali dalam beberapa bidang ilmu keislaman. Al-Qaradhawi mengenal Al-Ghazali lewat karya-karyanya dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, khususnya dalam bidang tasauf, dan ini merupakan awal pembentukan dimensi ruhiyah Al-Qaradhawi. Dua kitab utama yang menjadi rujukan Al-Qaradhawi pada masa kecilnya dalam bidang tasauf adalah kitab Minhaj ‘Abidin dan Ihya’ ‘Ulumuddin.


‘Allamah Ibn Taimiyah al-Harrani, Ibn Taimiyah adalah seorang ulama yang sangat mempengaruhi pemikiran Al-Qaradhawi, bahkan kekaguman Al-Qaradhawi terhadap kepakaran Ibn Taimiyah terlihat jelas dalam banyak karya Al-Qaradhawi yang banyak mengutip pendapat Ibn Taimiyah. Namun besarnya pengaruh Ibn Taimiyah tidak menghalanginya untuk berbeda pendapat mengenai persoalan majaz dalam Alquran, dimana Ibn Taimiyah mengingkari adanya majaz dalam Alquran.

Hasan al-Banna, Hasan al-Banna pelopor ikhwan muslimin, seorang ulama yang memiliki pikiran yang brilian, mampu memberi pengaruh kepada para tokoh ilmuan dan ulama pada masanya, memiliki visi persatuan umat, pelopor pergerakan di Mesir dan dunia Islam umumnya. Al-Banna sangat mempengaruhi kematangan pemikiran dan akhlak dakwah Al-Qaradhawi.

Audan dan Abdul Halim Mahmud, Audan salah satu pengajar Hadis di al-Azhar, seorang yang memiliki gaya bahasa yang menarik dan argumen-argumen yang kuat, tidak menyukai kebatilan dan kezaliman, dikenal dermawan. Al-Qaradhawi menyukai sikap gurunya yang lantang dalam kebenaran. Adapun Abdul Halim adalah ulama sufi modern, lulusan Perancis, menguasai filsafat dan tasawuf secara mendalam, terkenal zuhud, diamnya berwibawa dan menguasai beberapa cabang ilmu secara mendalam.

Syeikh Muhammad Al-Ghazali, Al-Qaradhawi mengenal Al-Ghazali melalui tulisan-tulisannya yang berbobot dan bermutu. Awal perkenalan mereka adalah tahun 40-an ketika itu Al-Ghazali merupakan salah seorang penulis di majalah Ikhwan Muslimin. Kecondongan tulisan Al-Ghazali yang kental dengan sastra dan analisa yang tajam membuat Al-Qaradhawi terkesan, dan menyukai gurunya Al-Ghazali.

Bahi al-Khuli, Salah satu cendekiawan yang menguasai konsep tarbiyah dan pemikiran yang suci dan mulia, dimana ia mengajar, dan mendidik jiwa para pemuda Ikhwan pada ketika itu dengan nilai ruhiyah yang tinggi.

Sayyid Abu al-Hasan Al-Nadwi, Ia berasal dari India, penulis buku monumental Madha Khasir al-‘Alam Bi inhitathil al-Muslimin. Ia dikenal tawadu’, mengutamakan kesederhanaan dalam hidupnya, zuhud terhadap dunia, memiliki pena yang tajam, hati yang lembut, jiwa yang kental dengan akhirat. Al-Qaradhawi memandang Al-Nadwi sebagai ulama yang sarat dengan keikhlasan yang tinggi dan kontribusi besar terhadap umat.

Karya-karya Al-Qaradhawi, Al-Qaradhawi termasuk ulama kontemporer yang menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, ini dibuktikan dengan banyak karyanya yang monumental. Bahkan karangannya menjadi rujukan para ulama, akademisi, dan umat Islam abad ini. Menguasai Alquran dan ilmu-ilmunya, lautan dalam ilmu Hadis, ahli fiqih kawakan abad ini, dai internasional, mufti dunia, imam dalam pemikiran Islam, tawadu’, dan tidak fanatik.

Sebagai seorang yang berpengetahuan luas, Al-Qaradhawi termasuk ulama yang memiliki kemampuan multi talenta. Ia juga sering diundang ke berbagai stasiun tv untuk membahas isu-isu hangat dan kontroversial yang sedang dihadapi umat Islam. Ia juga dikenal memiliki ketajaman pena dan keahlian dalam menulis. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya karya Al-Qaradhawi dalam berbagai disiplin ilmu mencapai 150 judul buku yang telah ditulis dan dicetak oleh berbagai macam penerbit, karyanya tersebut ada yang berjilid-jilid, adapula dalam ukuran dan volume sedang maupun tipis. Tulisan-tulisannya tersebar di seluruh pelosok dunia dan menjadi sebuah wacana yang kemudian dikaji dan dipelajari oleh umat Islam dunia. 

Di antara karya-karya Al-Qaradhawi adalah:

Dalam bidang Fiqih dan Ushul Fiqih:

Al-Halal wa al-Haram fi Islam

Fatawa Mu‘asirah

Fiqh al-Jihad

Fiqh Taharah

Fiqh Siyam

Fiqh Ghina’ wa al-Musiqi fi Dhauil Quran wa Sunnah

Fiqhu Lahwi wa Tarwih

Al Ijtihad fi Syari’ah Islamiyah

Madkhal li Dirasah Islamiyah

Al-Fatwa baina Indhibath wa Tasayyub

‘Awamil Si’ah wal Murunah fi Syari’ah Islamiyah

Ijtihad Mu’asirin baina Indibath wa Infirat

Dalam bidang Ekonomi Islam:

Fiqh al-Zakah

Musykilat al-Faqri kaifa ‘Alajaha al-Islam

Bai’ul Murabahah

Fawaid al-Bunuk hiya Riba Muharram

Daur Qiyam wa al-Akhlak fi Iqthishad Islami

Dalam bidang Ilmu Alquran dan Sunnah:

As Sabr fi al-Qur’an

Al-‘Aqlu wal Ilmu fi al-Qur’an Karim

Kaifa Nata’amal ma‘a al-Quran al-‘Azhim

Kaifa Nata’amal ma’ Sunnah Nabawiyah

Al-Madkhal li Dirasah Sunnah Nabawiyah

Al-Muntaqa li Targhib wa Tarhib

Sunnah Mashdaru lil Ma’rifah wal Hadharah

Nahwa Mausu’ah lil Hadis Masyru’ Manhaj Muqtarah

Dalam bidang Akidah:

Wujudullah

Haqiqat Tauhid

Al-Iman bi al-Qadar

Dalam bidang Dakwah dan Tarbiyah:

Tsaqafah Da’iyah

Tarbiyah Islamiyah wa Madrasas Hasan al-Banna

Ar-Rasul wa Ilmu

Al-Waktu fi Hayat al-Muslim

Risalat al-Azhar baina Amsi wa al-Yaum wa al-Ghad

Dalam Pergerakan dan Kebangkitan Islam:

Shahwah Islamiyah wa Humum Watan

Aina Khalal

Aulawiyat al Harakah Islamiyah

Fi Fiqh al-Aulawiyat

Islam wa ‘Almaniyah Wajhan li Wajhin

Malamih Mujtama’ Muslim

Syari’ah Islam Shalihah li Tathbiq fi Kulli Zaman wa Makan

Shahwah Islamiyah baina Juhud wa Tatharruf

Ummatuna baina Qarnain

Tarikhuna Muftara ‘alaih

Nahnu wa al-Gharb

Dalam bidang Sastra:

Nafahat wa Lafahat

Al-Muslimuna Qadimuna

‘Alim wa Thaghiyah

Yusuf al-Siddiq

Ibn Qaryah wal Kuttab

Dalam bidang Semangat Kebangkitan

Ad Din fi ‘Ashr ‘IIm

Islam wal Fan

Markaz Marah fi Hayat al-Islamiyah

Fatawa lil Mar’ah al-Muslimah

Jarimah Riddah wa ‘Uqubat al-Murtad

Al-Quds Qadhiyah Kulli Muslim

Fatawa Min Ajli Falasthin

Mabadi fil Hiwar wa Taqrib baina Madhahib Islamiyah

Usrah Kama Yuriduhal Islam

Dhahirat al-Ghuluw fi Takfir

Dalam bidang Biografi Ulama Islam

Imam al-Ghazali baina Madihih wa Naqidih

Syaikh al-Ghazali Kama ‘Araftuhu Rihlah Nisf Qarn

Syaikh Abul Hasan an Nadwi Kama ‘Araftuhu

Fi Wada’ A‘lam

Umar Ibn Abdil ‘Azis al Rasyid al Mujaddid

Nisa’ Mu‘minat.

Inilah beberapa judul buku yang ditulis Al-Qaradhawi, ditambah lagi dengan makalah-makalah, dan tulisan-tulisan ilmiah lain, serta keikutsertaannya dalam berbagai forum dan pertemuan tingkat tinggi umat Islam dunia, bahkan sekarang ia dinobatkan sebagai ketua ulama dunia, dan kapasitas Al-Qaradhawi diakui oleh para ahli hukum Islam lainnya, seperti Syeikh Wahbah Zuhaili, Syeikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Syeikh Mustafa al-Zarqa, Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Syeikh Muhammad al-Ghazali dan para ulama lainnya.


Ditulis:

Ustaz DR. Nurkhalis Mukhtar, Lc, MA

0 komentar:

Posting Komentar